Minggu, 11 Januari 2009

AGH. MUHAMMAD AHMAD PABBAJA (1908 - sekarang)


AGH Muhammad Abduh Pabbajah (1908 – Sampai sekarang), Salah seorang pendiri Darud Da’wah Wal Irsuad, sekretaris pertama Pengurus Besar DDI. Dan Pemimpin Pesantren DDI Al Furqan Parepare.Ketika Gurutta Ambo Dalle berada dalam lingkungan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar, maka Gurutta Pabbajah – lah tampil sebagai Pejabat Ketua Umum sementara DDI mengantikan Gurutta Ambo Dalle, umurnya ditaksir sudah menghampiri seratus tahun.AGH Abduh Pabbajah dan AGH Abdurrachman Ambo Dalle bersama sejumlah ulama Sulsel lainnya mendirikan DDI di Soppeng Riaja tahun 1938. Di antara pendiri DDI, sisa AGH Abduh Pabbajah dan AGH Ali Alyafie yang masih hidup. Alyafie kini menetap di Jakarta.

PROF. DR. KH. ALI YAFIE (1926 - SEKARANG)


Prof KH Ali Yafie, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), seorang ulama ahli Fiqh (hukum Islam). Dia ulama yang berpenampilan lembut, ramah dan bijak. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare, Sulsel, ini juga terbilang tegas dan konsisten dalam memegang hukum-hukum Islam.Selain aktif di MUI, ulama kelahiran Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Dewan Penasehat The Habibie Centre. Dia sudah menekuni dunia pendidikan sejak usia 23 tahun hingga hari tuanya. Diatas usia 70 tahun pun ulama yang hobi sepak bola, itu masih aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain di Universitas Asyafi’iyah, Institut Ilmu Al-Qur’an, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Ali berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil dia sudah berkecimpung di dunia pesantren. Ayahnya Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan memasukkannya ke pesantren.Sang ayah mendorongnya menuntut berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia. Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak kecil hingga kemudian dieruskan dalam mendidik putra-putranya dan santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauiddin, Makassar (1966-1972), ini mendirikan pesantren itu tahun 1947. Sudah banyak mantan santrinya yang kini telah menjadi orang. Di antaranya Mantan Menteri Agama Quraisy Shihab, Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, dan salah satu Ketua MUI Umar Shihab. Dia seorang ulama Nahdlatul Ulama, yang produktif menulis buku. Dia telah menulis beberapa judul buku. Dia ulama yang berpola pikir modern dan tidak tradisional, seperti sebagian pemimpin pondok pesantren. Kiai Ali (panggilan akrabnya), selalu mengedepankan Ukuwah Islamiyah di kalangan umat Islam Indonesia, dan tidak membeda-bedakan dari golongan Islam mana. Kearifan ini membuatnya diterima oleh semua pihak, baik dari kalangan Muhammaddiyah maupun kalangan Nahdatul Ulama, dan lain-lain Salah satu tokoh pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini sudah menikah sejak usia 19 tahun. Saat itu, isterinya Hj Aisyah, masih berusia 16 tahun. Kendati menikah muda, mereka mengarungi bahtera mahligai rumah tangga dengan bahagia. Keluarga ini dikaruniai empat anak, yakni Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru.Selain pernah aktif sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI, Ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi As-Syafiyah (YAPTA), Ketua Umum Majelis Ulama (MUI), Ketua Dewan Penasehat MUI, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), Anggota Dewan Riset Nasional (BDN) dan Guru Besar UIA-IIQ-IAIN, dia juga pernah menjabat sebagai hakim Pengadilan Tinggi Agama Makasar dan Kepala Inspektorat Peradilan Agama.Mantan Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ujung Pandang, ini juga menjadi Anggota DPR/MPR (1971--1987), Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Anggota Komite Ahli Perbankan Syariah Bank Indonesia dan Ketua Dewan Syariah Nasional MUI.Atas berbagai pengabdiannya, Kiai Ali, telah menerima Tanda Jasa/Penghargaan Bintang Maha Putra dan Bintang Satya Lencana Pembangunan dari pemerintah RI.*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Sabtu, 10 Januari 2009

DIALOG BUDAYA PW. IPNU SULSEL DAN IAPAN UP MAKASSAR







Makassar, Risalah IPNU SulSel
Lontarak, khazanah sastra klasik yang dimiliki leluhur suku Bugis (to-ugi) di Sulawesi Selatan, kini dihadapkan pada realitas “tenggelam” di tengah arus transformasi tanpa “dinding” budaya di era globalisasi. Melihat situasi seperti ini, Ikatan Alumni Pesantren An-Nahdlah (IAPAN) dan IPNU SulSel menggelar dialog budaya akhir tahun, dengan tema: Relasi Tradisi Lontarak dan Tradisi Pesantren di Kampus I Pesantren An Nahdah, Ahad (28/12).Tradisi Lontarak ini memiliki relasi-hubungan dengan tradisi Islam dan tradisi pesantren. Nilai-nilai tradisi dan budaya lokal mengalami proses asimilasi dan akulturasi bahkan internalisasi dengan ajaran Islam sehingga tidak mengalami perbenturan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan dakwah Islam yang memiliki sejarah panjang dalam dakwah Islam di Indonesia memiliki tanggung jawab memelihara tradisi Islam yang terdapat pada naskah klasik tersebut. Sedikitnya 30-an jilid koleksi lontara kini dimiliki pesantren An Nahdlah dan diharapkan dapat diakses oleh para santri, alumni dan para Pembina pesantren dengan target untuk membangun kesadaran historis kaum santri, dalam menghargai dan mengkaji khazanah leluhurnya yang berkaitan dengan hostorisitas Islam di Sulawesi Selatan. Sejumlah khazanah klasik yang memiliki relasi tradisi lontara dan pesantren diantaranya: Suret-Suret Panggaja Nabi, Pau-paunna Esso Rimunri, Budiistiharah, Riwayatna Tuanta Salamaka. Kegiatan yang dihadiri kurang lebih 1000 orang ini yang menjadi keynote speaker adalah Drs. KH. Muh. Harisah AS, pimpinan Pesantren An Nahdlah UP Makassar dengan moderator Dr Firdaus MA. Pembicara yang hadir diantaranya adalah Drs Muhammad Salim, sejarawan dan budayawan Sulawesi Selatan.

PENDIRI IPNU TUTUP USIA

Jakarta.Drs H Ismail Makky, salah seorang sesepuh dan pendiri organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), pada Ahad (3/8) malam, menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya, Jalan Raba Nomor 9 B Pondok Pinang, Jakarta.
Setelah diistirahatkan sehari di rumah duka, jenazah mantan Ketua Umum IPNU ke-2 ini dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta, Senin (4/8).Asrorun Niam Sholeh, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ikatan Alumni IPNU, yang turut memasukkan jenazah dalam liang kubur, menuturkan, Ismail Makky meninggal karena penyakit komplikasi yang sudah lama dirasakannya, juga karena umur beliau yang memang sudah uzur.
“Pak Ismail meninggal pada usia yang sudah uzur, yakni 80 tahun. Di samping itu, komplikasi penyakit yang telah lama beliau rasakan,” ujarnya selepas upacara pemakaman.
Niam menambahkan, semasa hidupnya Ismail Makky mempunyai peranan yang sangat sentral dalam menjalankan organisasi IPNU yang baru dirintisnya bersama-sama beberapa rekannya.
“Beliau itu kiai yang berperan dalam penataan organisasi IPNU. Selepas Pak Tholhah Mansyur, pada tahun 1954, beliaulah yang mengawali penataan dan konsolidasi kembali IPNU,” terangnya.
Ismail Makky, lanjut Niam, termasuk pemimpin yang sederhana dan tidak menonjolkan diri dengan kekayaannya. Hal itu dapat dilihat dari kesehariannya yang penuh dedikasi terhadap permasalahan bangsa, khususnya anak muda NU.
“Beliau itu salah satu mantan Ketua Umum yang sukses, namun rumah persinggahan beliau tampak sedehana sekali. Beliau memang orang yang sederhana,” tandas pria asal Gresik, Jawa Timur ini.
Oleh karena itu, Niam mengharapkan, dedikasi yang selama ini ditunjukkan oleh Ismail Makky dalam membesarkan IPNU hendaknya dijadikan teladan bagi kader-kader IPNU masa sekarang ini. “Dedikasi beliau terhadap IPNU sangat tinggi. Sekalipun sudah udzur, beliau masih menyempatkan diri untuk hadir di acara yang diselenggarakan IPNU.”
Di samping itu, pungkas Niam, hendaknya pengurus IPNU sekarang ini menjalin hubungan yang erat dengan mantan-mantan pengurus IPNU yang sudah sepuh. Selain Asrorun Niam Sholeh, hadir pada upacara pemakaman itu, mantan Ketua IPNU Himy Muhammadiyyah, yang sekarang Ketua Presidium Alumni IPNU, juga nampak mantan-mantan pengurus IPNU dari periode ke periode. (dtm)

Reuni Akbar Alumni Pesantren An Nahdlah UP











Ikatan Alumni Pesantren An Nahdlah (IAPAN) UP Makassar menggelar Reuni Akbar dan Halal bi Halal di Puri Maraja Ballroom Hotel Sahid Jaya Makassar. Acara tesebut dihadiri oleh Pimpinan Pondok Pesantren An Nahdlah UP Makassar Drs. KH. Muh. Harisah AS, Rektor UIN Alauddin Makassar Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, MA sekaligus sebagai pembawa hikmah Halal bi Halal dan Ahmad Baso anggota KOMNAS HAS Pusat yang sekaligus angkatan pertama di Ponpes An Nahdlah. Kegiatan tersebut merupakan puncak rangkaian kegiatan reuni akbar yang sebelumnya didelar berbagai kegiatan diantaranya futsal antar alumni, bazaar dan nonton bareng. Reuni akbar tersebut dihadiri ratusan alumni dari seluruh angkatan. Di sela-sela acara dikukuhkan tim penulis buku Sejarah dan Perkembangan Pesantren An nahdlah yang diketuai Ahmad Baso. Kegiatan Reuni akbar yang ketua panitiai Kahirul Anam HS itu diperkenalkan sejumlah alumni yang berprestasi di berbagai bidang seperti, akademik, guru, muballigh, bisnis, dokter, penulis dan politisi.

CORETANKU UNTUK IPNU SULSEL


KHAIRUL ANAM HS, S.Pd.I
(ketua Umum PW. IPNU SULSEL XI)


Sebuah prestasi gemilang yang diraih pada kongres IPNU 2003 di Surabaya yang kemudian dipertegas di Kongres IPNU 2006 di Jakarta adalah keberhasilan mengembalikan IPNU sebagai organisasi pelajar. Peralihan itu menunjukkan arti penting bagi proses kejelasan “kelamin” IPNU di masa mendatang.
Dalam menghadapi dinamika kehidupan akhir-akhir ini, tampak peran IPNU terutama di Sulawesi Selatan tidak cukup didengar. Ia tampil sebagai organisasi yang berkiprah di kandangnya sendiri, dan belum banyak memberikan peran publik. Hal ini banyak diakui oleh beberapa pihak, termasuk generasi muda NU di Sulawesi Selatan sendiri. Pertanyaannya kemudian, apakah ''kemandulan'' IPNU SulSel disebabkan tidak efektifnya segmen pelajar yang digarap? Atau justru diakibatkan faktor SDM yang tidak mampu mengaktualisasikan lembaga? Yang pasti bukan karena itu semua. Ketidakberdayaan IPNU SulSel diakibatkan oleh ketidakkonsistenan kadernya memegang khittah IPNU. Seharusnya pascakongres dilakukan rencana strategis yang khusus memformulasikan visi kepelajaran yang dimilikinya. Selama tiga tahun berjalan, visi kepelajaran yang dimiliki IPNU SulSel mengambang, atau bahkan berjalan tanpa arah yang jelas. Ini sangat tampak ketika kader di anak cabang dan cabang-cabang yang ada belum begitu paham tentang perubahan kepanjangan akronim ''P'' dari ''putra'' ke ''pelajar''.
Melihat kondisi demikian, setidaknya ada dua PR yang perlu diselesaikan oleh IPNU SulSel. Pertama, menegaskan posisi organisasi kepelajaran yang telah diikrarkannya. Kedua, menggarap dunia kepelajaran secara serius agar peran IPNU semakin jelas.
Kedua PR itu seyogianya bisa selesai sebelum Kongres XVI yang akan digelar Juli 2009.

GERAKAN INTELEKTUAL
Posisi organisasi pelajar di Indonesia sangat efektif dalam menyokong SDM bangsa. Ia berdiri dan berkiprah menguatkan basis pendidikan dan segmen keilmuan. Pendidikan dan keilmuan itu akan menghadirkan karakter bangsa, semacam kemandirian, kesahajaan dan kesatuan persepsi. Jadi arah yang paling ideal bagi IPNU SulSel ke depan adalah mengembangkan format gerakan intelektual. Kita bisa mencontoh Turki dan Mesir yang sadar akan kemundurannya. Ia masuk dalam periode kebangkitan Islam setelah ekspedisi Napolion di Mesir berakhir pada tahun 1801 M. Peristiwa itu membuka mata dunia Islam, terutama Turki dan Mesir, akan kemunduran dan kelemahan umat. Di sisi lain kemajuan dan kekuatan Barat tidak lagi dipungkiri. Fenomena demikian menjadikan pemerintah dan pemuka-pemuka Islam mulai berpikir dan mulai cari jalan untuk mengembalikan balance of power yang membahayakan Islam. Dengan demikian, timbullah apa yang disebut pemikiran aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam (Muslim Ishak: 1988).
Gerakan intelektual yang dimaksud adalah bagaimana IPNU SulSel mampu memberikan sumbangsih kepada kadernya untuk cinta ilmu sepanjang hayat dan melek terhadap modernisasi. Format gerakan yang nyata adalah doktrinasi arti penting ilmu modern untuk bekal di masa mendatang.Selama ini, NU dipandang sebagai organisasi klasik yang hanya mampu mencetak kiai. Doktor dan profesor yang lahir dari NU juga masih minim. Dengan kiprah kepelajarannya, jiwa cinta ilmu bisa ditanamkan sejak dini kepada kadernya, baik dalam pengkaderan formal maupun nonformal.Ke depan, IPNU tidak lagi bersusah payah mengadakan acara seremonial yang hanya berupa seminar atau semiloka, tetapi dengan SDM pendidikan yang kuat, IPNU mampu menawarkan gagasan brillian untuk disumbangkan pada bangsa.

MEMBANGUN PELAJAR
Secara formal, IPNU sudah mempunyai departemen advokasi pelajar. Tetapi lembaga ini tidak berdaya sedikit pun, sehigga terkesan tidak efektif dan bahkan ada ide untuk menghapusnya. Penulis menilai lembaga tersebut masih sangat penting.
Persoalannya kemudian, bagaimana memberikan bekal dan otoritas penuh bagi kader yang mengelolanya. IPNU SulSel selayaknya mengambil peran strategis mendampingi kasus-kasus pelajar yang muncul di permukaan.
Contoh, Ketika pelajar Aceh tidak begitu diperhatikan, PW. IPNU DIY Aceh tampil mendampingi mereka memperoleh hak pendidikan sesuai amanat Undang-undang Dasar 1945. IPNU menegaskan sikapnya kepada Pemerintah agar membuat pendidikan darurat pascatsunami.
Yang sedang marak sekarang adalah ancaman moralitas pelajar dari bahaya budaya Barat, seperti kehidupan bebas, glamorisme, dunia malam, dan konsumerisme. IPNU SulSel seharusnya bermain untuk memfilter budaya itu dengan melakukan kajian-kajian akademis. IPNU SulSel tidak melarang budaya lain masuk, tetapi melakukan seleksi dengan melibatkan semua pelajar dan pemuda. Dengan demikian, budaya Indonesia akan tetap tumbuh subur.
Dengan peran demikian, IPNU SulSel mampu menjalankan amanatnya dalam membangun pelajar dengan nilai-nilai budaya luhur bangsa. Manusia memang butuh pengalaman hidup. Begitu pula IPNU SulSel butuh pengalaman untuk menyelesaikan tugas utamanya dalam membangun pelajar Indonesia.


PENGALAMAN ORGANISASI
· Pengurus Cabang Ikatan Pelajar NU Makassar (2002-2004)
· Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar NU Sulawesi Selatan (2006-Sekarang)
· Ketua Rayon Fak. Tarbiyah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) (2004-2005)
· Ketua II Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UIN Alauddin (2006-2007)
· Sekertaris Umum Ikatan Alumni Pesantren AnNahdlah (IAPAN) (2006-Sekarang)
· Ketua Umum BEM Fak. Tarbiyah & Keguruan UIN Alauddin (2006-2007)
· Ketua Bidang Penalaran PP IMAKIPSI (Ikatan Mahasiswa Kependidikan Indonesia) Pusat (2007– sekarang)
·












KONFRENSI WILAYAH PW. IPNU SULSEL DI GELAR DI GEDUNG NU SULSEL




Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar nahdlatul Ulama (PW. IPNU) SulSel mengadakan Konfrensi Wilayah ke X pada hari/tanggal 22 November 2008, kegiatan ini dilaksanakan di Gedung NU Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 9 Makassar dan hadiri oleh ratusan keder IPNU dari seluruh perwakilan cabang IPNU se-Sulawesi Selatan. Hadir pada kegiatan tersebut AG. H. Sanusi Baco Lc (Rois Syuriah NU Sulawesi Selatan) sekaligus tampil membawakan mauidhoh hasanah , para pembina IPNU SulSel Dr. H. Abd. Kadir Ahmad, MA, Prof. Dr. H. Arfin Hamid, SH. MH, H.Muisriadi Muhammadiyah, M.Si, H. Alimuddin HD, M.Ag dan Abd. Aziz Hasan, S.Pd. Kegiatan ini merupakan wadah musyawarah tertinggi organisasi Pimpinan Wilayah IPNU SulSel untuk memilih ketua umum baru dalam mengembangkan IPNU di Sulawesi Selatan. Adapun yang tepilih sebagai ketua umum PW. IPNU Sul-Sel ialah rekan Khairul Anam HS, S.Pd.I setelah memperoleh 8 suara mengalahkan A.M. Taqiuddin SE yang hanya memperoleh 4 suara. Dalam sela-sela kegiatan tersebut Anam yang sementara ini melanjutkan Studynya di Pasca S2 UIN Alauddin Alauddin ini tuturnya, sebagai ketua terpilih ia akan mengaktifkan PC-PC IPNU di daerah yang selama ini tidak aktif sebagai prioritas kepengurusannya dua tahun kedepan.
GO…IPNU..GO…. !!!!!!